Solusi Kemacetan Bandung

Kota Bandung. Kota Kembang. Kota Kenang-kenangan. Itulah beberapa panggilan untuk kota yang asri ini. Kota ini menjadi salah satu tempat favorit destinasi para wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Saya merasa sangat bersyukur bisa lahir dan besar di kota yang sangat nyaman ini. Salah satu hal yang paling disukai orang-orang di kota ini yaitu udaranya yang sejuk, dingin. Namun, dibalik semua itu, Kota Bandung tidak luput dari permasalahan. Permasalahan yang membuat udara sejuk menjadi terasa panas menyengat. Permasalahan tersebut adalah macet. Mungkin tak hanya di Kota Bandung, tetapi kota-kota besar lainnya di Indonesia, bahkan di dunia pasti mengalami macet. Untuk saat ini, saya bertempat tinggal di daerah Kopo-Cibolerang. Daerah ini sudah hampir berada di perbatasan kota. Jarak rumah saya ke ITB cukup jauh yaitu 10 km (dibandingkam teman-teman saya yang ngekos, ini lumayan jauh). Perjalanan untuk pulang membutuhkan waktu 1,5-2 jam, padahal jika berangkat hanya 30-40 menit, itu pun harus pagi-pagi. Kalau terlambat sedikit, bisa saja kena macet.

Macet biasanya terjadi pada jam-jam sibuk. Pagi hari dan sore hari. Ini dikarenakan peningkatan jumlah volume kendaraan. Pada pagi hari, orang-orang berangkat menuju tempat beraktivitas sehari-harinya yaitu kantor, sekolah, kampus, pabrik, dll. Dan pada sore harinya mereka pulang secara bersamaan, terjadilah macet. Tidak hanya itu, kemacetan juga disebabkan karena pertemuan arus kendaraan.  Ditambah dengan lampu merah yang lama, terjadilah kemacetan yang beruntun ke jalan-jalan lainnya. Maka dari itu, saya mencoba untuk mencari solusi dari masalah kemacetan ini.

Fokus utama dalam menangani macet ini adalah mengurangi jumlah volume kendaraan di jalan. Bagaimana caranya? Dengan mengajak orang-orang untuk naik kendaran / angkutan umum. Tetapi bukan kendaraan umum biasa. Kita harus membuat kendaraan umum semenarik mungkin agar orang-orang merasa tertarik dan beruntung naik kendaraan umum tersebut. Kendaraan umum haruslah nyaman, aman, dan yang pasti cepat. Kendaraan berbasis rel menjadi kendaraan umum yang sangat disukai banyak orang seperti LRT, MRT, KRL, dsb. Kereta-kereta tersebut memang sudah tak asing untuk kita. Sudah ada dan sudah digunakan di negara-negara maju. Banyak orang memilih naik kereta ini karena cepat, nyaman dan sangat efisien dalam segi waktu. Terbukti, kereta tersebut memang efektif untuk menguraikan macet. Nah, saya memiliki ide satu kendaraan umum yang mungkin belum pernah ada. Yaitu capsule. Kendaraan ini beroperasi dibawah tanah dengan jalur seperti gorong-gorong. Menggunakan listrik sebagai tenaga utamanya. Kendaraan ini dibuat menyerupai kapsul dengan kapasitas 20-25 orang. Cara kerja kendaraan ini seperti lift di dalam gedung, tetapi bukan naik turun, melainkan maju dan mundur. Jadi terdapat beberapa titik yang akan menjadi halte dengan kode-kode tertentu. Sehingga, orang-orang akan menjadi cepat sampai tujuannya tanpa adanya macet. Dengan begitu, orang-orang yang asalnya memakai kendaraan pribadi diharapkan untuk memakai kendaraan umum ini. Sehingga volume kendaraan di jalan dapat berkurang dan macet pun bisa terminimalisir.

Selain kendaraan umum, saya juga memiliki ide dalam membuat kendaraan pribadi. Saya tekankan sekali lagi, fokus utamanya adalah mengurangi jumlah kendaraan di jalan, sehingga kita harus membuat kendaraan di udara ataupun di bawah tanah. Nah, kendaraan bawah tanahnya sudah, capsule, sekarang kendaraan pribadinya diperuntukan dipakai di udara. Kendaraan ini yaitu motor terbang dan mobil terbang. Motor terbang memiliki sayap dikedua sisinya. Dan cara kerjanya pun mirip dengan pesawat. Namun, jika jalanan tidak dalam kondisi macet, motor terbang ini dapat digunakan pula di jalan layaknya motor biasa dengan sayap yang terlipat. Berbeda dengan motor terbang, mobil terbang ini mirip dengan helicopter mini. Cara untuk terbang dengan langsung menaikkan mobil secara vertical, dan turunpun secara horizontal layaknya helicopter. Bentuk mobil ini seperti mobil sedan. Terdapat baling-baling pusat di atas mobil dan 4 baling-baling kecil di ke-4 sudut ujung depan dan belakang kap mobil. Ini dikarenakan untuk menyeimbangkan mobil saat naik ataupun turun. Motor terbang maupun mobil terbang ini hanya digunakan pada ketinggian tidak lebih dari 100 m. Dengan demikian, diharapkan kendaraan ini dapat mengurangi jumlah volume kendaraan di jalan sehingga tidak macet.

         Itulah beberapa ide-ide saya mengenai solusi permasalahan yang ada di Kota Bandung. Semoga ide-ide tersebut bisa menjadi kenyataan. Dan semoga Kota Bandung bisa terbebas dari kemacetan. Sekian dan terima kasih. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Film "Understanding Cyberworld 2020"